Analisis Fenomenologi Terhadap Interaksi Simbolik Dalam Komunikasi Kelompok Teman Sebaya Dan Dampaknya Pada Keputusan Perilaku

ANALISIS FENOMENOLOGI TERHADAP INTERAKSI SIMBOLIK DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK TEMAN SEBAYA DAN DAMPAKNYA PADA KEPUTUSAN PERILAKU

Nisrina Nur Indah Sari
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Jl. Raya Perjuangan No. 81. Marga Mulya, Bekasi Utara Jawa Barat, 17142.
Email: 202310415316@mhs.ubharajaya.ac.id

Abstrak

    Kelompok teman sebaya memiliki peran penting dalam proses sosialisasi dan pembentukan identitas remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk interaksi simbolik yang terjadi dalam komunikasi kelompok teman sebaya serta dampaknya terhadap keputusan perilaku anggota kelompok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini menggali makna simbol-simbol verbal dan nonverbal seperti bahasa slang, gesture, emoji, hingga kode kelompok, yang muncul dalam interaksi sosial remaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa simbol-simbol tersebut berfungsi sebagai alat identifikasi, kohesi sosial, dan eksistensi kelompok. Simbol juga menjadi penentu posisi sosial individu dalam kelompok serta memengaruhi keputusan perilaku, termasuk dalam aspek gaya hidup, cara berpakaian, pilihan akademik, dan relasi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa simbol dalam komunikasi tidak hanya mencerminkan pesan eksplisit, tetapi juga membentuk makna yang dinegosiasikan secara kolektif dan dimaknai secara subjektif oleh individu. Dengan demikian, komunikasi dalam kelompok teman sebaya merupakan arena penting bagi konstruksi makna sosial yang membentuk orientasi dan tindakan remaja dalam kehidupan sehari-hari. 

Kata Kunci: Interaksi simbolik, kelompok teman sebaya, komunikasi, fenomenologi, perilaku sosial.


Abstract 
Peer groups play an important role in the process of socialization and identity formation of adolescents. This study aims to analyze the forms of symbolic interaction that occur in peer group communication and its impact on the behavioral decisions of group members. Using a qualitative phenomenological approach, this study explores the meaning of verbal and nonverbal symbols such as slang, gestures, emojis, and group codes, which appear in adolescent social interactions. The results of the analysis show that these symbols function as a means of identification, social cohesion, and group existence. Symbols also determine an individual's social position in a group and influence behavioral decisions, including in aspects of lifestyle, dress, academic choices, and social relations. These findings confirm that symbols in communication not only reflect explicit messages but also form meanings that are collectively negotiated and subjectively interpreted by individuals. Thus, communication in peer groups is an important arena for the construction of social meaning that shapes the orientation and actions of adolescents in everyday life.

 Keywords: Symbolic interaction, peer groups, communication, phenomenology, social behavior.


PENDAHULUAN 

Manusia adalah makhluk sosial yang kehidupannya tidak terlepas dari interaksi dengan individu lain. Dalam proses tumbuh dan berkembang, khususnya pada masa remaja, individu mengalami berbagai proses sosial yang kompleks, salah satunya melalui keanggotaan dalam kelompok teman sebaya. Masa remaja merupakan fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, yang diwarnai oleh pencarian identitas diri, pembentukan nilai, dan proses penyesuaian terhadap norma sosial. Dalam proses ini, kelompok teman sebaya memiliki peranan dominan dalam membentuk kepribadian dan perilaku sosial individu[1]. Kelompok teman sebaya adalah unit sosial yang terdiri dari individu-individu dengan usia dan latar belakang perkembangan yang relatif serupa. Dalam kelompok ini, remaja menemukan ruang untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, serta menguji dan memvalidasi pandangan dan nilai yang mereka miliki. Interaksi yang terjadi dalam kelompok ini bukan hanya sebatas aktivitas sosial, tetapi juga merupakan sarana internalisasi nilai dan pembentukan identitas sosial. Sebagaimana dinyatakan dalam penelitian Roseanna Febriyani, interaksi antar teman sebaya terbukti menjadi pengaruh dominan dalam pembentukan nilai kepribadian siswa di lingkungan sekolah, karena pada masa remaja individu lebih banyak menghabiskan waktu dengan kelompok sebayanya, daripada dengan keluarga atau institusi formal lainnya.[2]

Bentuk interaksi dalam kelompok sebaya mencakup dimensi verbal dan non-verbal, serta ditandai oleh pertukaran simbol, nilai, dan pemaknaan bersama terhadap pengalaman sehari-hari. Model interaksi ini menciptakan rasa kebersamaan, kepercayaan, dan dukungan emosional, yang pada gilirannya memengaruhi perilaku komunikasi individu dalam kehidupan sosial. Kebersamaan yang merekatkan, dukungan sosial yang diberikan, hingga intensitas pertukaran informasi dan ide merupakan bentuk konkret dari pengaruh kelompok teman sebaya dalam membentuk pola pikir, sikap, dan kecenderungan perilaku remaja. [3]Misalnya, dalam konteks sekolah, perilaku seperti motivasi belajar, kepatuhan terhadap norma, serta gaya komunikasi interpersonal, sangat dipengaruhi oleh kelompok tempat individu tersebut berada. Dalam proses tersebut, komunikasi berperan sebagai medium utama dalam pembentukan pengaruh sosial. Komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun makna bersama, menciptakan kedekatan emosional, serta memperkuat ikatan sosial. Komunikasi yang terjadi di antara teman sebaya mencerminkan proses simbolik yang penuh muatan nilai, perasaan, dan ekspresi diri. Hal ini sejalan dengan pandangan dalam jurnal “Interaksi Kelompok dan Pengaruhnya terhadap Perilaku Komunikasi” bahwa komunikasi dalam kelompok melibatkan pertukaran perilaku dan pengaruh, di mana setiap individu dapat saling memengaruhi serta memberikan respons terhadap satu sama lain secara akti.

Komunikasi yang terjalin secara intens dalam kelompok sebaya membentuk pola keterbukaan, empati, dan solidaritas. Ketika individu merasa dihargai dan didengar dalam lingkup kelompoknya, maka ia cenderung menyesuaikan perilaku komunikasinya agar selaras dengan nilai-nilai kolektif. Proses ini berkontribusi terhadap pembentukan identitas sosial individu, di mana remaja mulai memaknai dirinya berdasarkan bagaimana ia diterima dan diposisikan oleh kelompoknya. Oleh karena itu, komunikasi dalam kelompok teman sebaya tidak bersifat netral, melainkan sarat dengan konstruksi sosial yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Selain itu, komunikasi berfungsi sebagai jembatan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan bermakna. Penelitian Galuh Oktianjani Sangaswari dkk., dalam jurnal Bisnis dan Komunikasi Digital, menggarisbawahi bahwa komunikasi yang terbuka, jujur, dan empatik mampu memperkuat rasa kebersamaan dan mengurangi konflik antarindividu dalam komunitas sosial. Prinsip ini berlaku pula dalam lingkup kelompok teman sebaya, di mana keterampilan komunikasi menjadi kunci dalam membentuk interaksi yang sehat, saling mendukung, dan produktif. [4]

Melalui proses komunikasi, kelompok teman sebaya dapat menjadi wahana sosialisasi nilai dan norma, serta arena eksperimen sosial bagi individu dalam membentuk jati dirinya. Komunikasi yang terjadi tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan proses negosiasi identitas, pencarian makna, dan penyesuaian diri terhadap ekspektasi sosial. Inilah yang menjadikan kelompok teman sebaya sebagai agen sosial yang sangat kuat dalam membentuk perilaku komunikasi dan perkembangan sosial individu secara menyeluruh.[5]

Dalam dinamika komunikasi kelompok, khususnya pada kelompok teman sebaya, bukan hanya isi pesan yang menjadi perhatian, melainkan juga simbol-simbol yang digunakan serta makna yang terkandung di dalamnya. Ketertarikan terhadap simbol dan makna ini menjadi penting karena dalam interaksi sosial, komunikasi tidak terjadi dalam ruang yang hampa nilai. Setiap ujaran, gestur, ekspresi wajah, dan bahkan objek yang digunakan dalam komunikasi kelompok memuat arti simbolik yang dibentuk dan dipahami secara kolektif oleh anggota kelompok. George Herbert Mead melalui pendekatan interaksi simbolik menekankan bahwa makna tidak melekat secara inheren pada objek atau tindakan, melainkan diciptakan dan dinegosiasikan melalui proses interaksi. Dalam konteks kelompok teman sebaya, simbol-simbol seperti gaya bicara, pemilihan kata slang, penggunaan emoji dalam percakapan daring, hingga cara berpakaian sering kali mencerminkan identitas, afiliasi, serta posisi individu dalam kelompoknya.[6]

Dalam realitas kelompok remaja, simbol-simbol sosial tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari bagaimana remaja membentuk citra diri dan menavigasi posisinya di tengah dinamika sosial. Sebagaimana terlihat dalam studi Roseanna Febriyani, interaksi sosial di antara teman sebaya menjadi arena penting dalam proses belajar sosial, di mana simbol-simbol dan makna bersama dibentuk, ditafsirkan, dan ditransmisikan antaranggotanya. Model interaksi sosial seperti kebersamaan, dukungan sosial, dan keakraban, yang ditemukan dalam kelompok remaja di SMA Negeri 10 Bandar Lampung, menunjukkan bagaimana komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memediasi konstruksi makna yang kompleks yang berkaitan erat dengan pembentukan nilai dan kepribadian.

Namun demikian, terdapat kesenjangan kajian yang cukup signifikan terkait pendalaman makna simbolik dan proses intersubjektif dalam komunikasi kelompok teman sebaya di Indonesia. Sebagian besar penelitian yang telah dilakukan lebih menekankan pada deskripsi umum tentang bentuk interaksi dan pola komunikasi, tetapi belum banyak yang secara eksplisit mengkaji bagaimana simbol dimaknai oleh individu dalam konteks sosial tertentu, terutama melalui pendekatan fenomenologi. Padahal, pendekatan fenomenologi sangat relevan dalam menggali pengalaman subjektif individu, terutama dalam memahami bagaimana makna terbentuk secara personal dan intersubjektif dalam proses komunikasi. Dalam konteks kelompok teman sebaya, pengalaman tersebut mencakup bagaimana seorang individu memaknai ucapan sahabatnya, bagaimana ia merespons simbol status yang ditampilkan dalam media sosial, serta bagaimana ia menginternalisasi norma kelompok berdasarkan simbol-simbol tertentu.

Minimnya pendekatan fenomenologis ini membuat banyak pemahaman tentang perilaku komunikasi remaja menjadi bersifat permukaan, padahal simbol dalam komunikasi kelompok sering kali menjadi penanda identitas sosial yang berlapis-lapis dan tidak selalu dapat dipahami secara linier. Misalnya, dalam interaksi sehari-hari, penggunaan istilah seperti “bestie”, “gaskeun”, atau bahkan kode rahasia di antara anggota kelompok memiliki makna emosional dan sosial yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui pendekatan perilaku. Begitu pula dengan simbol-simbol visual yang digunakan dalam komunikasi daring, seperti penggunaan stiker tertentu, filter foto, atau simbol emoji, semuanya memiliki makna yang bisa berbeda tergantung pada konteks dan relasi interpersonal dalam kelompok tersebut.[7]

Selain itu, penelitian terdahulu seperti yang dilakukan oleh Mochamad Robi Ali Salman dalam artikelnya mengenai Interaksi Kelompok dan Pengaruhnya terhadap Perilaku Komunikasi juga belum secara eksplisit menggunakan pendekatan interaksi simbolik dalam menganalisis fenomena komunikasi kelompok. Meskipun penelitiannya telah menunjukkan bahwa interaksi kelompok berpengaruh pada perilaku komunikasi, kajian tersebut masih bersifat deskriptif dan belum mengurai bagaimana proses pembentukan makna terjadi secara simbolik di antara anggota kelompok. Hal ini memperlihatkan adanya ruang untuk melakukan pendalaman konseptual dan metodologis, khususnya melalui pendekatan fenomenologi dan teori interaksi simbolik.

Melalui pendekatan fenomenologi dan teori interaksi simbolik, penelitian ini hendak mengangkat pengalaman subjektif anggota kelompok teman sebaya dalam memaknai simbol-simbol yang muncul dalam komunikasi mereka. Fokus utamanya bukan hanya pada apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana dan mengapa simbol tertentu digunakan, serta bagaimana simbol itu dimaknai secara kolektif oleh kelompok. Penelitian ini juga ingin menggali bagaimana simbol-simbol komunikasi tersebut berperan dalam memengaruhi keputusan perilaku individu, misalnya dalam hal mengambil sikap terhadap suatu masalah, memilih gaya hidup, atau menentukan pergaulan. Dengan demikian, komunikasi dalam kelompok teman sebaya bukan hanya menjadi sarana bertukar informasi, melainkan juga menjadi medan pertarungan simbolik yang sarat akan nilai, identitas, dan kekuasaan simbolik.

Pada bagian pembahasan, akan ditelaah secara mendalam bentuk-bentuk simbol yang muncul dalam komunikasi kelompok teman sebaya, baik dalam konteks langsung (tatap muka) maupun dalam ruang daring. Kemudian, akan dibahas pula bagaimana makna-makna tersebut dikonstruksi oleh individu dalam kelompok, serta bagaimana proses simbolik tersebut membentuk keputusan perilaku mereka. Selain itu, pembahasan akan menyoroti dinamika relasi kuasa simbolik yang muncul dalam kelompok, di mana ada simbol yang dianggap dominan dan menjadi standar kolektif, sementara simbol lainnya dapat dimarginalisasi. Dengan pendekatan fenomenologi, pengalaman subjektif anggota kelompok akan menjadi sumber utama untuk memahami bagaimana realitas sosial dibentuk, dikukuhkan, dan dinegosiasikan melalui komunikasi simbolik.

Dengan menggali fenomena ini secara lebih mendalam, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan kajian komunikasi kelompok di Indonesia, khususnya dalam ranah psikososial remaja. Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga reflektif dan interpretatif, dengan tujuan untuk memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana komunikasi simbolik dalam kelompok teman sebaya menjadi kekuatan utama dalam pembentukan identitas, nilai, dan perilaku sosial individu.

TINJAUAN PUSTAKA

a.     Teori Interaksi Simbolik (George Herbert Mead, Herbert Blumer)

Teori Interaksi Simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan kemudian dirumuskan secara sistematis oleh Herbert Blumer adalah sebuah pendekatan mikro sosiologi yang menekankan bahwa perilaku manusia dibentuk melalui proses interaksi sosial yang menggunakan simbol-simbol bermakna. Mead menegaskan bahwa manusia berkomunikasi dan berinteraksi dengan menggunakan simbol, terutama bahasa, yang memungkinkan mereka menciptakan makna bersama dalam konteks sosial. Dalam proses ini, individu tidak hanya bereaksi secara mekanis, tetapi juga melakukan interpretasi dan refleksi terhadap simbol yang mereka hadapi, sehingga membentuk konsep diri (self) dan pemahaman tentang masyarakat. [8]Blumer mengembangkan teori ini menjadi tiga asumsi utama: pertama, manusia bertindak berdasarkan makna yang mereka berikan kepada sesuatu; kedua, makna tersebut muncul dari interaksi sosial; dan ketiga, makna itu terus dimodifikasi melalui proses interpretasi individu. Dengan demikian, teori ini memandang realitas sosial sebagai konstruksi yang dinamis dan terus-menerus dinegosiasikan melalui interaksi simbolik antarindividu, di mana makna dan identitas sosial terbentuk dan berkembang.

b.     Komunikasi Kelompok Teman Sebaya

Komunikasi kelompok teman sebaya merupakan proses pertukaran informasi, gagasan, dan ekspresi sosial yang terjadi di antara individu-individu dengan usia, minat, dan tingkat perkembangan yang relatif serupa. Kelompok teman sebaya sering kali menjadi lingkungan sosial yang paling berpengaruh dalam tahap perkembangan remaja, terutama dalam pembentukan identitas sosial, penyesuaian perilaku, serta pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal. Melalui interaksi yang berlangsung secara intensif, remaja belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, menginternalisasi nilai-nilai sosial, dan memahami pola komunikasi yang dianggap dapat diterima oleh komunitas mereka.[9]

Secara umum, kelompok teman sebaya terbentuk secara spontan tanpa struktur formal yang terorganisir, namun tetap memiliki dinamika kekuasaan internal, termasuk sosok pemimpin informal yang dihormati atau diikuti oleh anggota lain. Kelompok ini cenderung bersifat fleksibel dan berubah-ubah tergantung pada situasi sosial, kedekatan emosional, dan tujuan kolektif yang ingin dicapai oleh para anggotanya. Dalam kelompok seperti ini, proses komunikasi tidak hanya berperan sebagai media penyampaian informasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas diri, ekspresi simbolik, dan pembelajaran sosial melalui mekanisme imitasi, negosiasi, dan konfirmasi nilai.[10]

 c.      Pendekatan Fenomenologi dalam Ilmu Sosial

Pendekatan fenomenologi dalam ilmu sosial merupakan metode kualitatif yang menekankan pada pemahaman mendalam terhadap makna dari suatu pengalaman sosial sebagaimana yang dialami oleh individu. Pendekatan ini tidak hanya berupaya menjelaskan fakta empiris, tetapi juga menggali esensi dari fenomena yang muncul dalam kesadaran subjek. Berakar dari filsafat Edmund Husserl, fenomenologi memandang bahwa realitas sosial tidak berdiri sendiri sebagai objek yang netral, melainkan selalu hadir dalam kesadaran manusia melalui pengalaman langsung yang bersifat intensional — yakni selalu mengarah kepada sesuatu dan sarat dengan makna.[11]

Dalam kerangka ini, fenomenologi menghindari asumsi atau generalisasi awal, dan menuntut peneliti untuk melakukan epoché atau bracketing — yaitu menangguhkan segala prasangka dan teori yang dibawa, agar dapat memahami dunia sebagaimana ditampilkan oleh aktor sosial itu sendiri. Husserl menegaskan bahwa untuk mengerti dunia sosial secara otentik, seorang peneliti harus masuk ke dalam dunia kehidupan (lebenswelt) individu dan menyelami bagaimana subjek memberi makna atas pengalaman sosial yang mereka alami secara sadar. Alfred Schutz kemudian mengembangkan gagasan fenomenologi Husserl ke dalam konteks ilmu sosial, dengan menekankan bahwa dunia sosial dibentuk melalui pemaknaan subjektif yang dilakukan oleh aktor-aktor sosial dalam kehidupan sehari-hari. Schutz menguraikan bahwa realitas sosial adalah hasil konstruksi intersubjektif, di mana makna sosial terbentuk melalui tindakan, simbol, bahasa, dan relasi antarindividu yang berlangsung dalam konteks tertentu. Dengan kata lain, tindakan sosial tidak dapat dipahami semata dari sudut pandang objektif (seperti statistik atau indikator kuantitatif), melainkan harus ditelaah dari cara pelaku sosial memahami dan memaknai dunia mereka sendiri.[12]

Dalam konteks penelitian sosial, pendekatan fenomenologi memungkinkan peneliti untuk menangkap pengalaman yang kompleks, ambigu, dan kontekstual, yang sering kali luput dalam pendekatan positivistik atau struktural. Peneliti fenomenologis melakukan wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta refleksi terhadap narasi atau kesaksian pengalaman subjektif, guna memahami pola-pola makna yang muncul secara natural dalam kehidupan aktor sosial. Misalnya, dalam kajian komunikasi kelompok teman sebaya, fenomenologi dapat digunakan untuk memahami bagaimana remaja memaknai simbol, bahasa, ekspresi, dan hubungan sosial dalam kelompok mereka, bukan sekadar mengamati perilaku komunikasi secara kasat mata.[13]

Penerapan pendekatan fenomenologi dalam penelitian komunikasi kelompok, misalnya pada kelompok teman sebaya, dapat mengungkap bagaimana simbol verbal dan nonverbal, gaya bahasa, dan bentuk interaksi sosial dibentuk dan dimaknai oleh individu dalam kelompok tersebut. Peneliti tidak hanya menggambarkan pola komunikasi, tetapi juga menyelami apa yang dirasakan, dipahami, dan diyakini oleh para partisipan tentang komunikasi mereka. Hal ini menjadi sangat penting dalam konteks remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas, di mana komunikasi dan simbol-simbol sosial memainkan peran besar dalam proses pembentukan makna diri.

PEMBAHASAN

Bentuk Interaksi Simbolik dalam Komunikasi Kelompok Teman Sebaya

      Dalam Komunikasi Kelompok teman sebaya, interaksi simbolik menjadi fondasi utama yang membentuk dinamika sosial, struktur hubungan, dan pengaruh antaranggota. Interaksi ini tidak terbentuk secara spontan atau netral, melainkan melalui simbol-simbol yang dipahami dan dimaknai secara kolektif. George Herbert Mead menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia selalu dimediasi oleh simbol, baik yang bersifat verbal maupun nonverbal, dan makna dari simbol tersebut lahir dari interaksi sosial yang terus-menerus. Dalam kelompok teman sebaya, simbol-simbol ini tidak hanya mencerminkan identitas dan posisi sosial, melainkan juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang memperkuat kohesi maupun konformitas dalam kelompok.[14]

Simbol verbal dalam komunikasi kelompok teman sebaya sering kali diwujudkan melalui bahasa slang, jargon internal, kode rahasia, dan penggunaan istilah populer. Misalnya, penggunaan kata seperti “bestie,” “gaskeun,” “slow,” “santuy,” hingga “kode merah” adalah contoh konkret simbol verbal yang hanya dapat dimengerti oleh anggota kelompok yang berbagi pengalaman serupa. Simbol-simbol tersebut bukan sekadar bentuk ekspresi, tetapi juga penanda identitas yang membedakan kelompok tersebut dari kelompok sosial lainnya. Dalam penelitian Didit Kurniawan, bentuk komunikasi verbal semacam ini turut membentuk peran sosial dalam dinamika kekuasaan, seperti dalam kasus bullying, di mana pelabelan verbal terhadap korban menjadi bagian dari mekanisme pengucilan dan pelembagaan dominasi. Sementara itu, simbol nonverbal dalam kelompok teman sebaya dapat berupa gesture tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, hingga penggunaan emoji dalam komunikasi digital. Misalnya, dalam platform digital seperti WhatsApp atau Instagram, simbol seperti emotikon. tidak hanya menyampaikan perasaan tetapi juga menandakan respons sosial yang diharapkan. Penggunaan emoji ini bisa menunjukkan kedekatan, sarkasme, atau bentuk solidaritas implisit. Berdasarkan kajian dalam Cyberpsychology and Social Networking, penggunaan simbol digital juga merefleksikan struktur sosial di dalam jaringan pertemanan daring, di mana pemberian respons seperti "like" atau "react" menjadi simbol pengakuan atau dukungan terhadap identitas kelompok.[15]

Kode kelompok juga muncul sebagai bentuk simbol kolektif yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang berada dalam lingkaran dalam kelompok. Misalnya, beberapa kelompok teman sebaya memiliki “sandi khusus” saat membicarakan hal-hal pribadi di depan orang lain yang tidak termasuk dalam kelompok tersebut. Kode ini bisa berupa kata-kata yang dimodifikasi, suara atau istilah yang dimaknai hanya oleh anggota tertentu, bahkan kombinasi gestur dengan ekspresi tertentu. Kode ini bertujuan tidak hanya untuk menjaga rahasia kelompok, tetapi juga memperkuat batas sosial dan rasa eksklusivitas antaranggota kelompok. Ini sejalan dengan pandangan Herbert Blumer bahwa makna simbolik diperoleh dari proses interaksi yang terus-menerus, dan akan terus disempurnakan dalam dinamika sosial.

Fenomena simbol dalam kelompok teman sebaya bukan hanya dapat diamati dari luar, namun juga harus dipahami melalui pengalaman subjektif individu. Dalam pendekatan fenomenologi, pengalaman ini menjadi pusat untuk memahami bagaimana simbol dimaknai secara personal namun dalam konteks sosial yang lebih luas. Narasi dari salah satu informan dalam studi yang dilakukan di Universitas Jember menunjukkan bahwa pengalaman simbolik memiliki dampak emosional dan perilaku yang signifikan. Seorang mahasiswa menyampaikan bahwa panggilan atau simbol tertentu yang dulu digunakan oleh teman-temannya yang membully, membuatnya trauma dan memilih berinteraksi hanya dengan kelompok perempuan, karena merasa simbol-simbol yang digunakan oleh kelompok laki-laki mengancam dan menyakitkan.

Hal ini menunjukkan bahwa simbol tidak hanya sekadar media komunikasi, tetapi juga dapat menjadi representasi kekuasaan, dominasi, atau bahkan luka sosial. Ketika simbol verbal atau nonverbal digunakan secara berulang dalam interaksi kelompok, maka simbol tersebut menjadi bagian dari struktur sosial internal yang menentukan bagaimana individu diakui atau ditolak oleh kelompoknya. Dalam konteks ini, simbol menjadi arena negosiasi identitas dan kontrol sosial, di mana individu belajar untuk menyesuaikan diri, atau sebaliknya, mengalami penolakan karena simbol yang mereka tampilkan tidak sesuai dengan harapan kelompok. Pengalaman ini sejalan dengan kerangka George H. Mead tentang self yang terbagi menjadi "I" dan "Me", di mana "Me" merupakan refleksi sosial terhadap bagaimana seseorang memandang dirinya berdasarkan tanggapan orang lain. Simbol menjadi sarana untuk membentuk dan menegosiasikan identitas tersebut. [16]Ketika seorang remaja merasa bahwa penggunaan emoji tertentu, atau gaya berbicara yang tidak sejalan dengan kelompoknya membuatnya dikucilkan, maka proses "Me" sebagai identitas sosial ikut terpengaruh. Sebaliknya, ketika simbol yang ia gunakan diterima, individu akan memperkuat identitas sosialnya dalam kelompok. Dengan demikian, bentuk interaksi simbolik dalam kelompok teman sebaya tidak hanya penting untuk dilihat sebagai proses komunikasi biasa, tetapi sebagai sarana konstruksi realitas sosial. Bahasa slang, kode kelompok, emoji, gesture, semuanya memuat lapisan-lapisan makna yang hanya bisa dipahami dalam kerangka interaksi sosial yang spesifik. Penelusuran makna dari simbol-simbol tersebut menuntut pendekatan yang mendalam dan reflektif, karena di balik simbol-simbol yang tampak sederhana tersembunyi narasi pengalaman, posisi sosial, dan dinamika kekuasaan yang kompleks dalam relasi antarindividu.[17]

Makna Simbolik dalam Dinamika Sosial Kelompok Teman Sebaya

Dalam dinamika sosial kelompok teman sebaya, simbol memegang peranan penting dalam membentuk identitas kolektif, menjaga kohesi internal, dan memperkuat eksistensi sosial suatu kelompok. Simbol tidak hanya dipahami sebagai lambang statis yang memiliki arti tunggal, melainkan sebagai hasil konstruksi sosial yang dinamis dan terus dinegosiasikan oleh anggota kelompok dalam interaksinya sehari-hari.[18] Dalam pandangan teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan Herbert Blumer, makna simbolik muncul melalui proses interaksi, dan bukan melekat secara inheren pada objek atau tindakan tertentu. Artinya, simbol baru bermakna ketika dipahami dan disepakati dalam konteks sosial yang berlangsung di antara para pelaku. Pada kelompok teman sebaya, simbol sering kali digunakan sebagai alat identifikasi. Bahasa gaul, nama panggilan khusus, atau istilah internal yang hanya dipahami oleh anggota kelompok adalah bentuk konkret dari proses simbolisasi ini. Identifikasi simbolik tersebut memberikan rasa keanggotaan (sense of belonging) dan menjadi indikator batas-batas sosial yang membedakan antara siapa yang “dalam” dan siapa yang “luar”. Dalam studi Roseanna Febriyani, interaksi teman sebaya di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa melalui simbol-simbol sosial tertentu, individu mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari kelompok yang memberikan dukungan emosional dan rasa keterhubungan yang kuat.[19]

Simbol juga memainkan peran kunci dalam menjaga kohesi kelompok. Melalui penggunaan simbol yang sama, seperti pakaian seragam, slogan tertentu, hingga cara bersalaman yang khas, kelompok teman sebaya membangun solidaritas dan menjaga stabilitas internal. Kohesi ini tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga fungsional, karena memungkinkan anggota kelompok untuk menyamakan persepsi, menyelaraskan tujuan, dan mengurangi konflik internal. Kohesi simbolik menjadi penting karena remaja sedang berada dalam fase pencarian identitas dan membutuhkan dukungan sosial yang stabil sebagai tempat bernaung dari tekanan eksternal.[20]

Lebih jauh, simbol berfungsi untuk menunjukkan eksistensi kelompok di ruang sosial yang lebih luas. Keberadaan simbol-simbol khas yang digunakan secara konsisten menjadi penanda identitas kolektif kelompok di hadapan kelompok lain. Misalnya, dalam dunia media sosial, penggunaan emoji tertentu, gaya caption, dan bahkan kode visual yang digunakan secara seragam oleh anggota kelompok teman sebaya, menjadi bentuk deklarasi simbolik yang memperlihatkan eksistensi dan distingsi kelompok. Hal ini juga berkaitan dengan teori Mead tentang “generalized other”, di mana individu memahami dirinya berdasarkan bagaimana ia dipandang oleh kelompok sosial yang lebih luas melalui simbol-simbol yang digunakannya.

Namun demikian, makna dari simbol tersebut tidak selalu bersifat tetap. Dalam praktiknya, simbol-simbol dalam kelompok teman sebaya mengalami proses negosiasi kolektif yang berlangsung terus-menerus. Sebuah simbol bisa saja memiliki makna tertentu pada awalnya, namun seiring dengan perkembangan hubungan sosial dan dinamika internal kelompok, makna tersebut dapat berubah. Proses negosiasi ini terjadi melalui diskusi informal, lelucon internal, peristiwa konflik, atau bahkan melalui pengalaman emosional bersama. Sebagaimana diungkapkan dalam kajian interaksionisme simbolik, realitas sosial adalah hasil dari proses interpretasi dan negosiasi makna yang dilakukan oleh individu terhadap tindakan sosial yang mereka hadapi. Pengalaman subjektif individu dalam menafsirkan simbol juga menjadi dimensi penting dalam memahami dinamika kelompok teman sebaya. Dalam kasus yang diangkat oleh penelitian Aladalah di lingkungan kampus Universitas Jember, seorang informan menyampaikan bagaimana simbol-simbol verbal yang digunakan oleh kelompok laki-laki yang pernah membully-nya menjadi pemicu trauma dan penghindaran. Ia akhirnya lebih nyaman berinteraksi dengan kelompok perempuan karena makna simbolik dari komunikasi laki-laki diasosiasikan dengan kekerasan dan ketidaknyamanan. Hal ini menunjukkan bahwa simbol tidak hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga menyimpan muatan emosional dan historis yang dapat berdampak pada perilaku sosial individu.[21]

Dalam kerangka fenomenologi, pengalaman seperti ini menjadi krusial karena simbol hanya dapat dipahami secara utuh ketika ditelusuri melalui kesadaran subjektif individu yang mengalaminya. Simbol bukan hanya alat komunikasi, tetapi merupakan bagian dari “dunia hidup” (lebenswelt) seseorang, yang membentuk cara pandangnya terhadap realitas sosial dan dirinya sendiri. Oleh karena itu, setiap individu dalam kelompok teman sebaya tidak hanya menjadi penerima pasif dari simbol, tetapi juga aktor yang aktif dalam membentuk, menafsirkan, dan menyebarkan makna simbolik sesuai dengan pengalamannya.

Keseluruhan dinamika ini menunjukkan bahwa makna simbolik dalam kelompok teman sebaya tidak bersifat tunggal dan kaku, melainkan terbentuk melalui interaksi sosial yang kompleks, negosiasi kolektif, dan pengalaman individual. Simbol menjadi jembatan yang menghubungkan struktur sosial dengan kesadaran individu, serta menjadi fondasi utama dalam pembentukan identitas, kohesi, dan eksistensi sosial kelompok. Oleh karena itu, untuk memahami perilaku komunikasi remaja secara utuh, penting untuk mengkaji tidak hanya simbol yang digunakan, tetapi juga bagaimana simbol itu dimaknai, dinegosiasikan, dan dihidupi oleh para anggotanya.

Dampak terhadap Keputusan Perilaku Remaja

Interaksi simbolik dalam kelompok teman sebaya tidak hanya memediasi komunikasi sehari-hari, tetapi juga berperan sebagai penentu dalam pengambilan keputusan perilaku anggota kelompok. Dalam kerangka interaksionisme simbolik, tindakan individu bukanlah respons langsung terhadap stimulus, melainkan hasil dari interpretasi makna sosial yang dilekatkan pada simbol tertentu dalam konteks interaksi sosial. Oleh karena itu, berbagai aspek kehidupan remaja mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, pilihan akademik, hingga pembentukan relasi sosial sangat dipengaruhi oleh simbol-simbol yang berkembang dalam kelompok.[22]

Dalam hal gaya hidup, simbol-simbol yang berkembang di antara teman sebaya sering menjadi rujukan utama dalam menentukan tren dan norma perilaku. Gaya berpakaian, misalnya, tidak sekadar mencerminkan selera pribadi, tetapi juga menjadi simbol status dan integrasi sosial dalam kelompok. Remaja yang mengenakan pakaian merek tertentu, mengikuti tren gaya Korea atau streetwear, misalnya, sering kali dimaknai sebagai anggota kelompok yang “up to date” dan berorientasi modern. Simbol-simbol ini kemudian diterjemahkan oleh anggota kelompok lain sebagai standar sosial yang perlu diikuti agar tetap diterima dalam kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa simbol dalam bentuk pakaian atau gaya berbusana mengandung makna kolektif, yang pada akhirnya membentuk keputusan individu dalam memilih gaya hidupnya.[23]

Dalam ranah akademik, interaksi simbolik juga memainkan peran penting. Misalnya, pada kelompok teman sebaya yang menjunjung tinggi prestasi, simbol-simbol seperti nilai tinggi, keaktifan dalam organisasi akademik, atau kepemilikan buku-buku ilmiah menjadi representasi dari status sosial tertentu. Sebaliknya, pada kelompok lain, gaya bicara yang anti-mainstream, keengganan terhadap sistem sekolah, atau bahkan simbol “malas belajar” dapat menjadi bentuk resistensi simbolik terhadap norma dominan. Dalam kasus-kasus seperti ini, keputusan akademik individu bisa sangat dipengaruhi oleh makna simbolik yang berkembang di lingkungan pertemanannya, bukan semata karena motivasi personal atau orientasi masa depan. Berdasarkan temuan dalam penelitian tentang pembentukan nilai kepribadian siswa, diketahui bahwa tekanan simbolik dari kelompok teman sebaya dapat mendorong siswa untuk mengikuti jalur akademik tertentu agar tetap mendapat pengakuan dari kelompoknya.[24]

Relasi sosial pun tidak lepas dari pengaruh simbolik ini. Simbol-simbol verbal seperti sapaan khusus, lelucon internal, hingga cara menyapa atau merespons pesan di media sosial menciptakan iklim sosial yang khas dalam kelompok teman sebaya. Remaja yang tidak memahami atau tidak menggunakan simbol tersebut secara tepat kerap dianggap “asing” atau tidak menyatu dengan dinamika kelompok. Dalam kasus bullying yang dikaji melalui perspektif interaksionisme simbolik, simbol-simbol tertentu seperti ejekan verbal atau isyarat tubuh telah menjadi bentuk kekuasaan simbolik yang menentukan siapa yang diterima dan siapa yang dikucilkan dalam kelompok. Dampak dari penggunaan simbol-simbol ini juga terlihat pada perubahan perilaku konkret. Salah satu contoh nyata adalah seorang remaja yang semula memiliki gaya berpakaian konservatif, namun setelah masuk dalam kelompok teman sebaya yang memiliki identitas gaya urban modern, secara bertahap mulai mengubah penampilannya agar sesuai dengan simbol-simbol yang berlaku dalam kelompok tersebut. Perubahan ini bukan sekadar kosmetik, melainkan juga berdampak pada cara remaja tersebut memandang dirinya sendiri dan bagaimana ia ingin dipandang oleh orang lain.

Contoh lain muncul dari hasil studi lapangan terhadap mahasiswa yang pernah menjadi korban bullying. Simbol-simbol komunikasi tertentu yang digunakan oleh kelompok pelaku—misalnya cara menyapa yang sinis, penggunaan emoji tertentu, hingga istilah verbal yang bernada merendahkan telah membentuk pemaknaan negatif yang kuat. Hal ini tidak hanya memengaruhi interaksi sosial korban, tetapi juga membentuk preferensinya dalam menjalin relasi, misalnya dengan hanya memilih berteman dengan kelompok tertentu yang dianggap lebih aman dan suportif.[25]

Dalam perspektif fenomenologi, setiap keputusan perilaku ini merupakan manifestasi dari pengalaman subjektif individu dalam menafsirkan simbol yang ada dalam kelompok. Ketika simbol tertentu dipersepsi sebagai representasi penerimaan, penghargaan, atau keamanan sosial, maka individu akan cenderung menyesuaikan diri terhadap simbol tersebut, bahkan jika hal itu menuntut perubahan perilaku yang signifikan. Proses ini tidak selalu disadari, tetapi membentuk dinamika sosial yang sangat kuat dalam kehidupan remaja sehari-hari. Secara keseluruhan, interaksi simbolik dalam kelompok teman sebaya membentuk lanskap sosial yang kompleks, di mana simbol menjadi alat untuk membangun, menegosiasikan, dan mempertahankan posisi sosial. Simbol-simbol ini tidak hanya mengarahkan persepsi, tetapi juga memengaruhi secara nyata keputusan-keputusan individu dalam banyak aspek kehidupan mereka. Maka dari itu, penting bagi penelitian sosial untuk terus mengkaji relasi antara simbol dan tindakan, karena di sanalah terletak kekuatan utama dalam memahami perubahan perilaku dalam kehidupan sosial remaja.[26]


KESIMPULAN

Berdasarkan keseluruhan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa interaksi simbolik dalam kelompok teman sebaya memainkan peran sentral dalam membentuk identitas, memediasi komunikasi, serta memengaruhi berbagai aspek perilaku sosial individu. Simbol-simbol yang digunakan dalam kelompok, baik verbal seperti bahasa slang dan kode internal, maupun nonverbal seperti gesture, emoji, dan gaya berpakaian, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi merupakan konstruksi sosial yang memuat nilai, norma, dan struktur kekuasaan kelompok. Melalui proses negosiasi makna secara kolektif, simbol-simbol ini membentuk kohesi, memperkuat eksistensi kelompok, dan menjadi standar perilaku yang diinternalisasi oleh anggota. Dalam konteks ini, keputusan perilaku individu termasuk dalam hal gaya hidup, penampilan, pilihan akademik, hingga bentuk relasi sosial terbukti sangat dipengaruhi oleh cara mereka memaknai simbol-simbol tersebut. Pengalaman subjektif setiap individu dalam merespons simbol yang ada menunjukkan bahwa komunikasi dalam kelompok teman sebaya bukan hanya proses pertukaran pesan, melainkan juga medan dialektika makna yang kompleks. Simbol menjadi sarana bagi individu untuk diterima, diakui, atau bahkan ditolak oleh lingkungannya, dan dari situlah terbentuk orientasi tindakan yang mencerminkan bagaimana individu menyesuaikan diri terhadap tekanan sosial yang ada. Dengan demikian, memahami interaksi simbolik dalam kelompok teman sebaya memberikan kontribusi penting dalam mengkaji dinamika sosial remaja, serta membuka ruang refleksi terhadap bagaimana simbol dan komunikasi membentuk perilaku dalam masyarakat yang terus berubah.


DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Jainul, and Yani Suryani. “Kajian Perilaku Kelompok Dalam Organisasi.” Jurnal Literasi Pendidikan Nusantara 1, no. 2 (2020): 97–110.

Blumer, Herbert. “Sociological Implications of the Thought of George Herbert Mead.” American Journal of Sociology. University of Chicago Press, 1966.

Citraningsih, Diningrum, and Hanifah Noviandari. “Interaksionisme Simbolik: Peran Kepemimpinan Dalam Pengambilan Keputusan.” Social Science Studies 2, no. 1 (2022): 72–86.

Derung, Teresia Noiman. “Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat.” SAPA - Jurnal Kateketik Dan Pastoral 2, no. 1 (2017): 118–31. https://doi.org/10.53544/sapa.v2i1.33.

Didit Kurniawan Wintoko, and Jason Marcelino Nugroho. “Analisis Kasus Bullying Pada Remaja Ditinjau Dari Perspektif Interaksionisme Simbolik.” ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum Dan Humaniora 2, no. 1 (2023): 62–70. https://doi.org/10.59246/aladalah.v2i1.617.

Dyatmika, Teddy. Ilmu Komunikasi. Zahir Publishing, 2021.

Febriyani, Roseanna. “Model Interaksi Sosial: Peran Teman Sebaya Dalam Pembentukan Nilai Kepribadian Siswa.” Jurnal Socius, 2020. https://ejournal.unib.ac.id/jkaganga/article/view/36023.

Hasbiansyah, OJMJK. “Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian Dalam Ilmu Sosial Dan Komunikasi.” Mediator: Jurnal Komunikasi 9, no. 1 (2008): 163–80.

Kurniawan, Didit. “Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat.” Al-Adalah: Jurnal Hukum Dan Politik Islam, 2021. https://ejournal.iainkendari.ac.id/aladalah/article/view/3627.

Nasir, Abdul, Nurjana Nurjana, Khaf Shah, Rusdy Abdullah Sirodj, and M Win Afgani. “Pendekatan Fenomenologi Dalam Penelitian Kualitatif.” Innovative: Journal Of Social Science Research 3, no. 5 (2023): 4445–51.

Oyindamola Joshua Ayeni  Joseph Oluwadamilare Sanni, Judith Obinna Madugba. “Cyberpsychology, Behavior and Social Networking.” ResearchGate Preprint, 2022. https://www.researchgate.net/publication/366311413.

Sangaswari, Galuh Oktianjani, Husen Indarno Syaifullah, Mochamad Dzkri Malik Ibrahim, Neng Sumarni, Siti Khafifah Dwiyanti, and Arief Rakhman. “Peran Keterampilan Sosial Membentuk Hubungan Yang Sehat Dalam Mempengaruhi Interaksi Sosial Di Lingkungan Sosial.” Jurnal Bisnis Dan Komunikasi Digital 1, no. 3 (2024): 10. https://doi.org/10.47134/jbkd.v1i3.2695.

Schutz, Alfred. Alfred Schutz on Phenomenology and Social Relations. Vol. 360. University of Chicago Press, 1970.

Sudarmanto, Gunawaan, and Roseana Febriyani. “MODEL INTERAKSI SOSIAL PERAN TEMAN SEBAYA DALAM PEMBENTUKAN NILAI KEPRIBADIAN SISWA 1) Oleh Roseanna Febriyani 2) , Darsono 3) , R. Gunawan Sudarmanto 4),” no. 1 (2014).

Suwanto, Insan, Dian Mayasari, and Nurul Wulan Dhari. “Analisis Peran Teman Sebaya Dalam Pengambilan Keputusan Karier.” Counsellia: Jurnal Bimbingan Dan Konseling 11, no. 2 (2021): 168–79.

Tutiasri, Ririn Puspita. “Komunikasi Dalam Komunikasi Kelompok.” CHANNEL: Jurnal Komunikasi 4, no. 1 (2016): 81–90.




[1] Abidin and Suryani, “Kajian Perilaku Kelompok Dalam Organisasi.”

[2] Febriyani, “Model Interaksi Sosial: Peran Teman Sebaya Dalam Pembentukan Nilai Kepribadian Siswa.”

[3] Kurniawan, “Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat.”

[4] Sangaswari et al., “Peran Keterampilan Sosial Membentuk Hubungan Yang Sehat Dalam Mempengaruhi Interaksi Sosial Di Lingkungan Sosial.”

[5] Dyatmika, Ilmu Komunikasi.

[6] Tutiasri, “Komunikasi Dalam Komunikasi Kelompok.”

[7] Nasir et al., “Pendekatan Fenomenologi Dalam Penelitian Kualitatif.”

[8] Derung, “Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat.”

[9] Febriyani, “Model Interaksi Sosial: Peran Teman Sebaya Dalam Pembentukan Nilai Kepribadian Siswa.”

[10] Sudarmanto and Febriyani, “MODEL INTERAKSI SOSIAL PERAN TEMAN SEBAYA DALAM PEMBENTUKAN NILAI KEPRIBADIAN SISWA 1) Oleh Roseanna Febriyani 2) , Darsono 3) , R. Gunawan Sudarmanto 4).”

[11] Nasir et al., “Pendekatan Fenomenologi Dalam Penelitian Kualitatif.”

[12] Schutz, Alfred Schutz on Phenomenology and Social Relations.

[13] Hasbiansyah, “Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian Dalam Ilmu Sosial Dan Komunikasi.”

[14] Blumer, “Sociological Implications of the Thought of George Herbert Mead.”

[15] Oyindamola Joshua Ayeni  Joseph Oluwadamilare Sanni, “Cyberpsychology, Behavior and Social Networking.”

[16] Sangaswari et al., “Peran Keterampilan Sosial Membentuk Hubungan Yang Sehat Dalam Mempengaruhi Interaksi Sosial Di Lingkungan Sosial.”

[17] Schutz, Alfred Schutz on Phenomenology and Social Relations.

[18] Sudarmanto and Febriyani, “MODEL INTERAKSI SOSIAL PERAN TEMAN SEBAYA DALAM PEMBENTUKAN NILAI KEPRIBADIAN SISWA 1) Oleh Roseanna Febriyani 2) , Darsono 3) , R. Gunawan Sudarmanto 4).”

[19] Febriyani, “Model Interaksi Sosial: Peran Teman Sebaya Dalam Pembentukan Nilai Kepribadian Siswa.”

[20] Derung, “Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat.”

[21] Didit Kurniawan Wintoko and Jason Marcelino Nugroho, “Analisis Kasus Bullying Pada Remaja Ditinjau Dari Perspektif Interaksionisme Simbolik.”

[22] Sangaswari et al., “Peran Keterampilan Sosial Membentuk Hubungan Yang Sehat Dalam Mempengaruhi Interaksi Sosial Di Lingkungan Sosial.”

[23] Suwanto, Mayasari, and Dhari, “Analisis Peran Teman Sebaya Dalam Pengambilan Keputusan Karier.”

[24] Sudarmanto and Febriyani, “MODEL INTERAKSI SOSIAL PERAN TEMAN SEBAYA DALAM PEMBENTUKAN NILAI KEPRIBADIAN SISWA 1) Oleh Roseanna Febriyani 2) , Darsono 3) , R. Gunawan Sudarmanto 4).”

[25] Derung, “Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat.”

[26] Citraningsih and Noviandari, “Interaksionisme Simbolik: Peran Kepemimpinan Dalam Pengambilan Keputusan.”

Komentar